Marketing yang Lebih “Manusia”

Marketing yang Lebih “Manusia”

Marketing yang terlalu rapi udah nggak terlalu disukai orang.

Sekarang, orang malah lebih suka marketing yang mentah, terlihat real, dan apa adanya.

As a marketing and tech enthusiast, here are things i found interesting :


Perfection is Not a Thing


Sekarang, konten pemasaran yang sifatnya “terlalu polished” justru kurang menarik buat audiens. Dari pada konten pakai bahasa yang tertata rapi, foto produk pakai lighting studio yang super professional, mereka justru lebih suka konten yang lebih nyata.

Daily life yang nampilin gimana produk itu dipakai, yang direkam dari kamera handphone dengan angle yang natural, diselipin dialog atau lelucon lucu sehari-hari, itu yang lebih mereka suka.


The Real Show is Happening Behind The Screen


Audiens pingin tau apa yang ada di belakang layar. Konten yang bisa nahan audiens biar tetap ngeliat dan nggak nge-skip videomu adalah konten yang bisa bikin mereka ngerasa “oh ternyata semua orang berjuang dulu, gue nggak sendirian”.

Dari pada konten yang tiba-tiba nunjukin produk atau campaign yang udah jadi, audiens lebih suka lihat proses di belakangnya.

Dari pada langsung nunjukin “kita jualan brownies di bazaar XX. jangan lupa dateng ya!”, audiens lebih suka kalau brand nunjukin gimana ribetnya nyiapin stock buat bazaar. Seberapa pontang-pantingnya brand buat nyiapin ini semua. Mulai dari baking, quality control, packaging, bikin materi promosi, sampe hambatannya. Ada product yang failed ngga di tengah proses? Ada bahan yang basi ngga? Apa ada yang ngga lolos quality control? Itu yang lebih mereka suka. They also want to see the imperfection and the struggle.

Mereka suka marketing yang feels real, relatable, jujur, dan lebih “human”.


The Marketing Paradox


However, i found that all of these are interesting. Orang-orang lebih suka marketing brand yang sifatnya jujur dan terasa “manusia sebenarnya”, tapi juga suka dan butuh campur tangan teknologi canggih. Itu kan berkebalikan?

Karena, kita nggak bisa nyangkal kalau teknologi mempermudah dan menolong banyak proses di bisnis kita.

Personalization butuh integrasi data biar marketing terasa lebih personal.

Bisnis butuh omnichannel biar pengalaman customer lebih mulus dan bisa saling terhubung.

Social listening, sentiment analysis, juga butuh AI buat baca ratusan feedback dan keluhan konsumen buat dengerin preferensi mereka. Semua itu butuh teknologi di belakangnya.

Dan dengan itu semua, customer ngerasa kalau marketing ini lebih terasa “manusia”nya.

Mereka ngerasa “ih, aku diperhatiin deh” “mereka tau kesukaanku, tau apa yang aku butuhin” “oh mereka perbaiki servicenya sesuai masukanku”.

They feel seen. They feel heard. They feel understood. Kerasa manusia banget.

Dan ini emang paradox. Teknologi dibutuhin banget biar terasa lebih “manusia”.

Tapi kalau sepenuhnya bergantung ke teknologi, customer nggak lagi ngerasain itu.

Kalau teknologi udah bukan jadi alat dan malah menggantikan “human connection”, nah itu yang bahaya.

Kalau menurut teman-teman gimana?

Jangan lupa follow Instagram dan Tiktok @kanoteknologi buat liat lebih banyak konten seputar teknologi dan bisnis ya!